Siluet Cahaya Untuk Supriadi Tuna Netra dari Desa Kakiang, Sumbawa
News
Admin PPSW | 21 Oktober 2025 | 106
Sebuah kebanggaan bagi kami dapat membantu seorang “pejuang” disabilitas di wilayah tertinggal. Lewat sebuah program “go digital” membuat ia yang tengah berjuang dengan segala keterbatasan dapat menggapai dunia seperti yang lain.
Meski tak dapat melihat secara normal, Sapriadi (45) tak menjadikan kekurangannya sebagai alasan untuk bermalas – malasan. Warga desa Kakiang, kabupaten Sumbawa ini layak disebut “pejuang”. Meski ia terlahir dengan mata yang hanya dapat melihat samar – samar tak membuatnya berkecil hati. Meski ia sudah bekerja sejak kecil, namun keinginannya untuk belajar sangat tinggi. Ia belajar apapun secara otodidak. Sosoknya supel dan penuh percaya diri. Sikapnya yang ramah , jujur dan mudah bergaul itu membuatnya dipercaya membantu beberapa petani didaerahnya untuk menjual hasil tani tanpa modal yang besar. Karena keramahannya ia berhasil menjual hasil tani ke rekan dan kenalannya. Berkat keberhasilan itu ia mendapat upah dari selisih penjualan sebesar 2-5 persen. Supriadi dikenal gigih dalam bekerja. Ia tak segan untuk ikut membantu mengangkut hasil tani dari sawah ke rumah pembeli tanpa tambahan biaya. Selain menjadi marketing hasil tani, ia juga memiliki usaha pulsa yang berkerjasama dengan agen pulsa besar didaerahnya.
Kegigihannya membuat ayah dua anak ini berhasil membangun rumah sederhana untuk keluarga kecilnya. Meski hanya sebuah rumah kecil berlantai semen, namun baginya itu sebuah pencapaian. Katanya ia masih memiliki mimpi – mimpi lainnya yang ingin dia wujudkan dengan kerja keras. Karena itu Supriadi merasa sangat senang bisa dibantu salah satu voulenteer PPSW, Edi Junaedi. “Mas Edi ngajarin saya macam – macam. Mulai dari menggunakan aplikasi talkback, kalkulator berbicara, aplikasi look out , hingga aplikasi Tjawa T- Netra. Semua aplikasi itu ada di Hp, jadi sangat memudahkan saya ,” ujarnya. Menurutnya Edi seperti membuka dunianya yang gelap menjadi penuh cahaya. Ia tidak perlu khawatir lagi harus meminta orang lain membantunya menghitung pendapatan dan pengeluaran, karena kini ia bisa menggunakan kalkulator berbicara. Ketika ada yang membeli pulsa kini ia secara mandiri bisa menerima uang dengan menggunakan aplikasi Tjawa T-netra. Supriadi juga tak lagi khawatir tersandung , karena ketika dia ragu ia akan menscan apapun barang yang ada didepannya, dan aplikasi akan bersuara mengatakan benda apa yang ada didepannya.
“Dulu sebelum saya belajar semua aplikasi itu dari mas edi, saya melakukan segalanya sangat sulit. Saya harus menghapal jalan, dan benda yang ada di sekitar desa. Apalagi ketika membawa hasil tani ke rumah pembeli. Saya harus memanggulnya dan membayangkan jalan. Memang mata saya masih bisa melihat hanya sangat samar, bahkan jika malam hari sama sekali tidak terlihat,” ungkap ayah dua anak ini.
Disisi lain Edi mengungkapkan penerima manfaatnya ini sangatlah giat belajar. Meski Supriadi saat itu tidak memiliki hp android namun tak menjadikannya putus asa. “Bayangin, dia saat itu ga punya hp android, hpnya nokia poliponik jadul yang hanya bisa sms. Jadi dia datang kerumah saya, dan menggunakan Hp android saya untuk belajar,” ungkap Edi. Dari siang hingga malam Supriadi belajar bagaimana menggunakan android. Mulai dari aplikasi sederhana seperti whatshap hingga aplikasi penunjang lainnya. Supriadi bahkan sudah mampu menggunakan hanya dengan belajar beberapa hari. Rasa ingin tahu yang besar dan kegigihan membuat Supriadi cepat belajar. Setelah merasa mampu menggunakan ia memberanikan diri membeli sebuah hp android yang ia beli dari uang tabungannya. Supriadi mulai menggunakannya dalam keseharian. “Alhamdulilah , berkat itu usaha pulsa saya semakin maju. Usaha penjualan hasil tanipun sekarang lebih mudah. Jadi customer ga perlu datang lagi jauh – jauh kesawah, saya cukup kirim gambar dan pesan suara lewat wa! Jadi prosesnya lebih cepat dan minim biaya,” ungkap Supriadi.
Supriadi bercerita, usahanya kini bertambah. Ia juga membuka usaha galon air minum di ruang tamu rumahnya. Menurutnya, selama ada kesempatan ia mau usahakan agar dua anaknya yang memiliki keterbatasan sepertinya bisa bersekolah dengan layak. “Dulu saya ga bisa sekolah karena didesa saya tidak ada SLB. Dari segi biaya keluarga saya saat itu juga tidak memiliki biaya untuk menyekolahkan saya di SLB luar daerah. Padahal saya sangat ingin bersekolah seperti anak lainnya. Maka itu saya upayakan agar anak – anak saya bisa bersekolah meski harus diluar desa. Akan saya persiapkan biayanya!” tandasnya. Berkat kegigihannya, ia dapat menghidupi keluarganya dengan layak, bahkan beberapa kali memberikan bantuan kepada keluarga besarnya yang kekurangan. (yah)
#ppsw # taf # go digital #